in: OC 101 | May 14, 2016 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Synthetic Benchmark vs ‘Real-world’ Benchmark bagi Overclocker

SuperPi32Ms

Benchmarking, dalam konteks dunia computing, umumnya dapat didefinisikan sebagai sebuah tindakan yang dilakukan untuk memahami performa sebuah sistem PC, baik itu PC-nya keseluruhan, atau per komponennya.

Bentuk yang paling umum dari tindakan benchmarking itu sendiri adalah menjalankan sebuah software(yang kita sebut sebagai software benchmark), software tersebut akan menjalankan serangkaian pengujian, lalu memberikan sebuah output berupa nilai yang mudah dimengerti, lalu kita bisa membandingkan hasil benchmark dengan sebuah sistem lain untuk melihat bagaimana performa sistem kita dibandingkan sistem lain tersebut.

Kami sering mendapat pertanyaan, Mengapa tim JagatOC lebih banyak menggunakan benchmark sintetis seperti Cinebench R15 dan 3DMark, serta jarang menggunakan aplikasi real-world, seperti Adobe Premiere, Photoshop, Handbrake, dan lain sebagainya?

Sebagai overclocker yang sangat peduli akan pengujian performa, kami merasa perlu untuk memberi penjelasan mengenai perbedaan kedua tipe software benchmark ini.

cinebenchR15

Cinebench R15, salah satu benchmark sintetis yang umum kami gunakan

 

3DMark Fire Strike – benchmark sintetis yang popular digunakan gamer untuk mengukur performa GPU

Synthetic vs Real-world Benchmarking

Benchmark dapat dibedakan dari macam aplikasi apa yang digunakan untuk melakukan benchmark tersebut.

  • Synthetic Benchmark(a.k.a benchmark sintetis): dilakukan dengan sebuah software khusus benchmark PC yang merupakan simulasi dari aplikasi/program yang kita jalankan pada kehidupan sehari-hari(misal: Cinebench, 3DMark)
  • Real-world benchmark: dijalankan dengan menggunakan sebuah aplikasi umum yang dapat ditemui sehari-hari(misal: Photoshop, Game 3D,dsb)

TIDAK ada yang lebih baik satu sama lainnya, karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Benchmark Sintetis: Lebih Mudah

Xtu Benchmark

Intel XTU benchmark – memberikan nilai benchmark yang langsung menunjukkan kecepatan prosesor dan subsistem RAM yang dipakai

Benchmark sintetis akan menghasilkan sebuah output/nilai yang mudah dibaca, serta pengujiannya mudah dijalankan dan pengujiannya mudah diulang, namun bisa jadi hasilnya tidak selalu mencerminkan keadaan spesifik pada aplikasi real-world.

(Misalnya: VGA yang kencang di benchmark 3DMark belum tentu kencang di sebuah game tertentu, karena bisa saja ada game spesifik yang dioptimalkan ke arsitektur vga tertentu dan membuat performa beberapa jenis vga menjadi lebih buruk).

Mengingat bahwa kami banyak melakukan pembandingan kecepatan sistem sebelum maupun sesudah di-tuning, maka benchmark sintetis adalah cara termudah untuk menunjukkan peningkatan performa.

 

Aplikasi Real-life: Perlu Cari Skenario Sesuai

Mengukur performa pada Photoshop, perlu skenario uji yang tepat untuk menguji komponen tertentu. Dan mungkin sebuah stopwatch untuk mengukur waktu-nya

Ini bukan berarti kami tidak tertarik melakukan benchmarking dengan berbagai aplikasi ‘real-world’ di luar sana, hanya saja dengan waktu pengujian yang seringkali terbatas (untuk informasi, kami melakukan pengujian overclocking pada setidaknya 10-15 hardware per bulan, per orang), benchmark sintetis akan dengan mudah memperlihatkan apakah tindakan overclocking yang kami lakukan pada-nya termasuk efektif.

Menguji sebuah skenario overclocking pada aplikasi real-world akan membutuhkan kami untuk ‘menebak’ apakah aplikasi tersebut menunjukkan peningkatan performa, sebuah variabel yang umumnya sulit kami kontrol karena faktor variasi hardware dan software yang sangat luas.

Misalnya, jika kami menguji overclocking RAM pada platform X99 menggunakan aplikasi real-world seperti Photoshop yang hampir tidak menunjukkan peningkatan performa dari overclock RAM, kami bisa saja salah mengambil kesimpulan dengan mengatakan ‘Overclocking RAM di sini tidak pengaruh’, padahal di software benchmark yang RAM-intensive seperti Geekbench 3 Memory Score, atau 3DMark11 Physics peningkatannya bisa terlihat. Penggunaan Photoshop-nya tidak salah, namun di pengujian ini kami harus mencari skenario pengujian yang lebih memory-intensive. Bergantung skenario uji-nya, Photoshop bisa saja digunakan untuk membebani komponen storage, komponen CPU, serta pada beberapa konfigurasi tertentu, menguji RAM.

Jika setiap kali pengujian kami perlu mencari skenario spesifik untuk menunjukkan peningkatan performa, waktu kami akan habis mencari skenario uji tersebut, bukan untuk menguji hardware :)

Jadi, walau kami masih menggabungkan software benchmark sintetis dan aplikasi real-life pada pengujian in-depth, pada kebanyakan pengujian singkat, kami masih menggunakan benchmark sintetis, dengan alasan:

  1. Kemudahan penggunaan, mudah diulang
  2. Banyak benchmark yang punya tujuan jelas menguji hardware tertentu(Misal Cinebench R15 untuk CPU)
  3. Skor yang tingkat variasinya kecil

Sampai jumpa di berbagai uji overclocking kami yang selanjutnya!

 

Penting: Info Lebih Lengkap Mengenai Benchmarking

SyntheticBench

Kami menghimbau Anda yang ingin informasi lebih lengkap mengenai benchmarking untuk membaca beberapa artikel kami berikut ini. Worth a read!

Mengenal Benchmark Sintetis Part 1 of 3: Tool Penting Bagi Overclocker

Mengenal Benchmark Sintetis Part 2 of 3: 2D & 3D Benchmark

Mengenal Benchmark Sintetis Part 3 of 3: 10 Benchmark GRATIS untuk PC Anda

Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES
News | June 4, 2018 | Comments

JagatOC Berangkat ke Computex 2018

Ajang pameran teknologi komputer terbesar se-Asia, yakni Computex 2018 akan segera dimulai. Seperti biasa, JagatOC yang diwakili oleh overclocker-nya, Alva ‘Lucky_n00b’ Jonathan, akan memberikan berbagai update teknologi terbaru seputar overclocking,
Read More »