in: News | December 31, 2017 | by: Jagat OC Team

Tahun 2017 di Mata Overclocker

Tahun 2017 akan berakhir dalam beberapa saat. Momen pergantian tahun belum lengkap nampaknya kalau belum disertai dengan rangkuman singkat mengenai apa saja yang menarik di tahun ini. Satu hal yang pasti – 2017 merupakan tahun dimana perkembangan teknologi berlangsung dengan sangat pesat, dan memunculkan berbagai produk baru – terutama prosesor. Jika perhitungan kami tidak meleset, hardware yang dirilis di tahun 2017 sendiri setara jumlahnya dengan hardware yang dirilis di periode 2014-2016 sekaligus.

Nah, tanpa menunggu lama, mari kita melihat kembali tahun 2017 ini – dari mata seorang overclocker!

 

Intel Core 7th Generation ‘Kaby Lake’ K-Series: Potensi Clockspeed Tinggi

dsc00873s

Awal tahun 2017 disambut dengan peluncuran sebuah prosesor dengan arsitektur baru dari Intel – yang dikenal dengan Core 7th Generation, atau ‘Kaby Lake’. Prosesor ini menuai pro dan kontra di masa peluncuran-nya, karena peningkatan performa yang diberikan tidak terlalu tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, bagi para overclocker, prosesor Kaby Lake ini memberikan potensi pencapaian clockspeed yang luar biasa, dimana sebagian besar prosesor yang kami temui bisa mencapai clockspeed 5 Ghz atau lebih dengan aircooling, dan saat dipadukan dengan Liquid Nitrogen(LN2) berbagai World Record benchmark langsung dipecahkan!

Sebagai catatan tambahan, Intel merilis 3(tiga) varian Kaby Lake K-series, yakni: Core i7-7700K (4 Core/8 Thread), Core i5-7600K (4 Core/4 Thread), dan Core i3-7350K (2 Core/ 4 Thread). Meski performa Core i5 dan i7-nya terbilang menarik saat di-overclock, performa Core i3-nya dinilai agak rendah, karena masih menyandang gelar dual-core di tahun 2017

Simak pengujian overclocking perdana kami dengan Core i7-7700K pada artikel berikut ini!

 

 

AMD Ryzen 7 dan Ryzen 5: Kembalinya AMD di Lini High-end

Ryzen7_1700_OC_02

Tahun 2017 jelas bisa disebut sebagai tahun dimana AMD menunjukkan bahwa mereka telah siap untuk bertarung dengan pesaing mereka, dengan merilis prosesor Ryzen. Berbekal arsitektur ‘Zen’, prosesor Ryzen 7 yang datang dengan konfigurasi 8-core 16-thread langsung menghajar kompetitor mereka, Intel Broadwell-E, dan AMD membuktikan bahwa Ryzen 7 memiliki performa multi-core tinggi dengan harga SETENGAH dari solusi yang ditawarkan Intel.

Meski demikian, rilisnya Ryzen tidak lepas dari berbagai kontroversi, sebut saja pencapaian clockspeed yang relatif rendah (dengan batas atas pemakaian harian di sekitar 4 Ghz-an), dan performa gaming yang problematik di beberapa game-game yang kurang memanfaatkan banyak core. Untungnya, bagi overclocker dan power-user, Ryzen terbukti mudah di-overclock karena SEMUA prosesor Ryzen datang dengan konfigurasi unlocked, dan AMD mengijinkan motherboard kelas mainstream berchipset B350 untuk melakukan OC pada CPU Ryzen. Ryzen non-X(seperti Ryzen 7 1700, Ryzen 5 1600) nampak memiliki potensi performa besar untuk dikeluarkan dengan overclocking karena clockspeed default-nya rendah.

Baca kembali potensi overclocking Ryzen 7 1700 di pengujian kami pada 10 prosesor Ryzen ini!

 

 

Core-X & Platform X299: Kaby Lake-X dan Skylake-X

Cinebench_3_gameBoostdefault

Setelah kemunculan platform enthusiast Haswell-E di tahun 2014 silam, Intel hanya mengeluarkan sebuah update di tahun 2016 dengan merilis prosesor Broadwell-E di platform X99. Tahun 2017 ini Intel mengganti lineup platform enthusiast mereka dengan Platform X299. Salah satu kelebihan platform ini adalah fleksibilitas yang ditawarkan, dimana socket LGA2066 yang dipakai di sini bisa menangani prosesor kelas mainstream dan kelas enthusiast sekaligus. Ya, platform X299 bisa menangani prosesor Kaby-Lake X (4-Core) , dan juga Skylake-X (6 hingga 10-Core saat pertama launch). Kaby Lake-X merupakan prosesor dengan die yang sama dengan Kaby Lake, sedangkan Skylake-X merupakan desain baru, yang menawarkan opsi jumlah core tinggi.

Ditinjau dari sisi overclocking, Kaby Lake-X memiliki overclockability mirip dengan Kaby Lake, namun tidak jarang ada overclocker yang mencapai clockspeed sedikit lebih tinggi di Kaby Lake-X. Faktor-faktor yang mengijinkan ini terjadi salah satunya  karena motherboard Kaby Lake-X yang berbasis X299 umumnya memiliki regulator daya yang lebih berkualitas, serta Kaby Lake-X sendiri memiliki sedikit improvement dari CPU pinout(lebih banyak Vcc dan Vss pins) untuk mengijinkan suplai voltage yang lebih stabil saat melakukan extreme overclocking.

Skylake-X menandai kemunculan prosesor Core i9 pertama (Core i9-7900X, 10-Core 20-thread) untuk kelas Desktop Enthusiast. Prosesor 10-core tersebut memiliki potensi clockspeed yang lebih baik dari Broadwell-E generasi sebelumnya, ketika kebanyakan Broadwell-E 10-Core memiliki kesulitan untuk mencapai clock 4.3Ghz ke atas dengan aircooling, Skylake-X 10-Core bisa mencapai 4.5 – 4.7Ghz ke atas – sayangnya hal ini harus dibayar dengan konsumsi daya relatif tinggi dan juga thermal output yang besar saat Skylake-X tersebut di overclock.

 

Ryzen Threadripper dan X399: Mengejar Supermasi di kelas Enthusiast

Hampir berbarengan dengan dirilsnya informasi mengenai Skylake-X, AMD menyatakan bahwa mereka memiliki satu platform dan socket baru untuk mengakomodasi para pengguna Enthusiast, yakni Ryzen Threadripper dengan Socket TR4, chipset X399. Threadripper terkencang dirilis dengan konfigurasi 16-Core 32-thread, namun prosesor tersebut memiliki harga setara dengan Core i9-7900X 10-Core (USD 999). Tentunya, harga yang menarik dengan performa tinggi ini menjadikan Threadripper dilirik pengguna kelas enthusiast yang sedang mencari alternatif.

Berbicara overclockability, sama halnya dengan Ryzen di socket AM4, Threadripper datang dengan konfigurasi unlocked multiplier untuk semua prosesor-nya, dan dikabarkan dapat dioverclock untuk mencapai clockspeed 4 Ghz pada semua 16-core-nya. Ini terjadi karena AMD menggunakan die Zen terbaik untuk mendesain threadripper, membuat Threadripper memiliki overclockability yang lebih baik dari kebanyakan prosesor AM4.

Saat dijalankan dengan pendingin LN2, Ryzen Threadripper berpotensi mencapai clockspeed 5.2Ghz atau lebih, simak hands-on overclocking kami akan Ryzen Threadripper di artikel ini

 

Ryzen 3: Murah, Tetap Overclockable

Hardware yang overclockable biasanya memiliki harga tinggi. Tidak demikian dengan Ryzen 3 1200, prosesor Ryzen termurah AMD saat ini yang masih datang dengan unlocked multiplier. Prosesor dengan harga sekitar 1.5 Juta Rupiah saat rilis di Indonesia ini memiliki 4-Core 4-Thread, dengan potensi overclock kurang lebih mirip dengan Ryzen 5 dan Ryzen 7.

Prosesor ini pun bisa di-overclock cukup jauh meski hanya menggunakan stock cooler, dan Anda hanya membutuhkan motherboard dengan chipset kelas menengah seperti B350 untuk meng-overclock prosesor yang satu ini

 

Skylake X 18-Core, Core i9-7980XE : Prosesor Desktop Terkencang

Nampak bahwa Intel masih sangat menginginkan gelar ‘Prosesor Desktop Terkencang’, sehingga mereka merilis prosesor 18-Core berbasis Skylake-X. Performa prosesor ini ketika di-overclock begitu buas-nya, sampai-sampai bisa mendekati performa multi-core dari Ryzen Threadripper 16-core saat di-overclock dengan LN2. Sayangnya hal ini harus dibayar dengan harga yang luar biasa tinggi (1999 USD per prosesor), dan juga konsumsi daya besar, serta suhu operasional yang tinggi.

 

 

Coffee Lake dan Z370: Jawaban Intel Untuk Ryzen?

Rilisnya Ryzen 5 6-Core dan Ryzen 7 8-Core menghadirkan solusi jumlah core cukup tinggi pada kelas harga menarik, dan pastinya berpotensi membuat lini Kaby Lake 1151 dari Intel terancam karena platform tersebut hanya memiliki 4-Core 8-thread. Untuk itu, Intel menghadirkan 8th Gen Core ‘Coffee Lake’ yang kini memiliki Jumlah core lebih banyak – sekarang Core i5 memiliki konfigurasi 6-core 6-thread, sedangkan Core i7 memiliki konfigurasi 6-Core 12-thread.

Tidak hanya itu, platform Coffee lake yang didukung chipset Z370 ini memiliki overclockability yang cukup tinggi pula : 5.1 – 5.2Ghz pada 6-core 12-thread akan menjadi hal yang umum ditemui di Coffee Lake.

 

 

 

Indonesia dan Competitive Overclocking di 2017

Sebagai penutup, kami ingin menambahkan sedikit data seputar kegiatan competitive overclocking / OC-eSports. Tahun 2017 ini merupakkan tahun dengan jumlah kegiatan cukup padat, dan juga komponen yang dihadirkan dalam kompetisi overclocking ini cukup beragam dengan hadirnya banyak platform baru yang kami sebut di atas.

Berbicara mengenai prestasi, kami mendapati adanya perubahan ranking HWBOT pada beberapa overclocker Indonesia menjelang akhir tahun ini:

Rank Overclocker Indonesia 2017

BlueFiber – Extreme League Indonesia #1

IvanCupa (kiri), BlueFiber(kanan)

Perubahan yang cukup menonjol disini adalah naiknya satu overclocker Extreme yang namanya masih relatif baru di dunia OC Indonesia, yakni Chandra Wijaya a.k.a BlueFiber. Awalnya tidak terlalu terdengar di tahun 2016, BlueFiber memulai ‘karir’-nya sebagai competitive overclocker dengan banyak bertanding secara online di OC-eSports.io pada awal tahun 2017, ia pun memenangkan kompetisi OC Amatir Terbesar Indonesia – AOCT 2017 – bersama rekan-nya IvanCupa (Rank 4 Indonesia). Prestasi terbaiknya tahun ini adalah menjadi wakil Indonesia di kompetisi HWBOT OC World Championship di Berlin, Jerman.

Sekarang, ia berhasil menggeser posisi seniornya, Jesse Putra ‘bboyjezz’ yang cukup sering bertanding di Luar. Dengan ini BlueFiber resmi menjadi Overclocker liga Extreme no.1 Indonesia per 31 Desember 2017.

 

yerrihakim – Enthusiast League Indonesia #1

Ahmad Zariruddin a.k.a yerrihakim (tengah) – menjadi juara 3 di kompetisi JagatReview AOCT 2017 Campus Cup

Berikutnya, ada sebuah nama baru lagi yang muncul, yakni Ahmad Zariruddin ak.a yerrihakim, yang sekarang menduduki posisi #1 pada liga Enthusiast. Akhir-akhir ini, ia cukup sering men-submit beberapa hasil benchmark dengan skor yang cukup mengagumkan di HWBOT, seperti misalnya mencatatkan 2816 Points di Intel XTU Benchmark untuk kelas Core i7-8700K.

Ia juga muncul pada kompetisi overclocking lokal akhir tahun yang diselenggarakan JagatReview – AOCT 2017 Campus Cup dan mendapatkan posisi 3 di sana.

 

Dengan munculnya wajah-wajah baru ini, kami berharap Indonesia akan bisa lebih mencatatkan berbagai prestasi gemilang di bidang competitive overclocking pada tahun 2018!

 

 

 

Penutup

Tahun 2017 sukses menjadi tahun yang sangat ‘menyiksa’ para overclocker dengan berbagai tantangan baru dari banyaknya hardware-hardware yang dirilis – kami sendiri sampai saat artikel ini dirilis, masih berjuang untuk menyelesaikan berbagai ulasan hardware di tahun 2017 :p

Selamat Tahun Baru, dan simak terus berbagai update terkini seputar dunia overclocking, hanya di JagatOC!

 

 

 

 

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES