in: Review | April 19, 2018 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

AMD Ryzen 7 2700X : Overclocking Review & Analysis

XFR2 – Cooler vs Performance: Wraith PRISM vs Corsair H105

Secara singkat, XFR (extended Frequency range) pada Ryzen bertujuan untuk ‘memeras’ performa sistem hingga batas terakhir di atas batas normal Precision Boost, jika solusi cooling yang Anda gunakan mengijinkan. Jika dulu XFR hanya bekerja pada workload ringan (single-threaded), sekarang XFR2 pada Pinnacle Ridge bisa bekerja di semua core (tentu, dengan syarat cooler-nya memadai).

Ini berarti, performa Ryzen 7 2700X akan lebih dipengaruhi oleh cooler dibanding generasi sebelumnya.

 

Pengujian

Berikut kami membandingkan cooler Wraith Prism bawaan melawan sebuah AIO Watercooling seperti Corsair H105 , lalu melihat beda performa yang terjadi antara keduanya. Sistem diletakkan pada sebuah open bench tanpa casing, dengan suhu ruangan pada 25 C.

  • Untuk melakukan load, kami menjalankan Cinebench R15 sebanyak 20 kali (lalu mencatat Suhu Tdie pada prosesor)
  • Untuk pencatatan performa, kami melihat nilai 10 run pertama.

AMD Wraith Prism (82 C Peak Tdie)

 

Corsair H105 Full-Speed (63 C Peak Tdie)

 

Berikut pengukuran performa-nya:

Perbedaannya kecil, namun jelas. Sistem dengan Wraith PRISM yang memiliki suhu operasional tinggi (82 C Peak) memiliki skor Cinebench R15 lebih rendah dibanding cooler Corsair H105 (63 C Peak). Perbedaan ini makin lebar semakin lama benchmarknya dijalankan. Nantinya, saat kedua sistem masuk ke dalam casing PC, kami berasumsi perbedaan ini akan makin besar juga.

Cooler yang baik akan memastikan XFR2 pada Ryzen 7 2700X untuk beroperasi maksimal.

(sebagai catatan, benchmark Cinebench R15-nya di sini terlihat lebih rendah dari rata-rata biasanya, ini terjadi karena HWinFO dijalankan di background pada kedua pengujian)

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8
Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES