in: Motherboard | April 25, 2018 | by: Ivan R. Akbar

Hands-On Overclocking Gigabyte AB350N Gaming WiFi

Teardown Gigabyte AB350N Gaming WiFi (Lanjutan)

Berikutnya, kita akan melihat komponen-komponen yang terpasang di board. Untuk itu, kami terlebih dahulu melepas heatsink yang terpasang agar dapat mengakses langsung komponen yang ada di bawahnya. Ada dua buah heatsink kecil di motherboard ini, yaitu di area mosfet VRM dan di chipset B350.

Mosfet VRM didinginkan oleh sebuah heatsink imut ini.

 

Terdapat chipset B350 di bawah heatsink dengan logo Gigabyte Gaming ini.

Kiri: Heatsink mosfet VRM. Kanan: Heatsink chipset.

 

Inilah penampilan dari motherboard Gigabyte AB350N Gaming WiFi dalam keadaan telanjang, alias setelah semua heatsink dilepas.

Chipset B350

 

Bagian audio dengan kapasitor elektrolit Nichihon. Terdapat juga jumper Clear CMOS.

 

Inilah salah satu hal yang spesial dari board Gigabyte AB350N Gaming WiFi ini. Board ini menggunakan International Rectifier IR3556M untuk VRM VCore & VSOC. Dengan IR3556M ini, secara teori board ini dapat menangani load hingga 50A per-phase. Ini menjadikan Gigabyte AB350N Gaming WiFi merupakan board Mini-ITX soket AM4 berchipset B350 dengan rating current capability VRM terbaik yang tersedia di Indonesia.

Enam buah mosfet IR3556M ini dikontrol oleh sebuah IR35201, dengan konfigurasi 4+2 (4 phase pada VCore & 2 phase pada VSOC). Dengan begitu, board ini mampu menangani load setidaknya hingga 200A untuk CPU core. VRM ini dipasok dayanya oleh sebuah 8-pin CPU Power.

Pengujian On Air

Melihat motherboard ini memiliki “modal” mosfet kelas atas, kami mengasumsikan board mungil ini mampu menangani overclocking AMD Ryzen 6 core. Namun, melihat heatsink pendingin VRM yang cukup kecil, kami sempat meragukan kemampuannya. “Pasti board ini akan shutdown karena overheat atau bahkan mati terbakar”, begitulah anggapan kami.

Kami pun melakukan pengujian awal, dengan pendingin HSF biasa, menggunakan AMD Ryzen 5 1600X, untuk melihat apakah anggapan kami benar. CPU yang kami gunakan kami jalankan di kecepatan 4 GHz dengan vCore 1.4v. Pendingin yang kami gunakan adalah AMD Wraith Max. Ternyata, anggapan kami tidak terbukti, kekhawatiran kami pun sirna. Pengujian awal ini berjalan mulus dengan suhu 79 °C dicatat oleh sensor VRM MOS saat benchmark Cinebench R15 berjalan.

Dengan asumsi nilai dari sensor yang ditampilkan oleh HWiNFO akurat, konsumsi daya CPU package (CPU + SoC) tertinggi yang tercatat adalah 147 W.

Suhu VRM mencapai 79 °C ini memang terlihat agak tinggi, walau kebanyakan MOSFET memiliki absolute maximum rating pada 125-150C, sehingga 79C bisa dibilang ‘aman’. Inilah sebuah ‘trade-off’ dari penggunaan heatsink kecil untuk menghemat tempat dan memberikan clearance untuk komponen-komponen lain di sekitar soket prosesor. Kami hanya dapat menyarankan agar user menggunakan HSF berjenis top flow seperti Wraith Max yang kami gunakan, atau seperti Noctua NH-C14S, sehingga area di sekitar heatsink mosfet VRM mendapatkan aliran udara.

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4
Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES