in: Review | May 30, 2018 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Hands-on Review & Overclocking CPU 4-Core Murah: Ryzen 3 1200 vs Ryzen 3 2200G vs Core i3-8100

Metode Pengujian

Untuk menguji kemampuannya, Kami akan menguji ketiga prosesor ini di konfigurasi:

  1. Stock
  2. Overclock ke batas atas nya (setting lengkap pada halaman-halaman berikutnya) – dengan STOCK cooling.

Sebagai catatan tambahan, Core i3-8100 tidak mendukung overclocking prosesor pada motherboard apapun. Satu-satunya kemungkinan untuk ‘overclocking’ pada Core i3-8100 adalah melakukan overclock RAM dan sedikit base clock OC(range-nya kecil, sekitar 2-3 Mhz dari default), sayangnya hal tersebut membutuhkan motherboard Z370 high-end sehingga kami memutuskan untuk tidak melakukan overclocking apa pun pada Core i3-8100.

Sebaliknya,  Ryzen 3 1200 dan Ryzen 3 2200G masih mengizinkan overclocking. OC pada Ryzen 3 ini membutuhkan motherboard kelas B350 yang masih tersedia dengan harga kelas menengah ke bawah, sehingga kami masih akan melakukan overclocking pada kedua prosesor tersebut (OC akan dilakukan pada RAM, dan juga Prosesor).

Oh ya, karena harga merupakan sebuah fokus tersendiri pada artikel ini, kami hanya akan melakukan overclocking menggunakan stock cooling bawaannya, yakni AMD Wraith Stealth.

Baca Juga: Uji Overclocking Ryzen dengan Stock Cooling

 

Benchmarking akan kami lakukan di beberapa skenario, mulai dari beberapa benchmark sintetis, beberapa aplikasi real-world, serta tentunya uji gaming di 1080p 144Hz.

Daftar Benchmark

Benchmark Sintetik

Berikut ini adalah benchmark sintetis yang kami gunakan:

  • Cinebench R15 digunakan untuk menampilkan performance single core dan multicore,
  • 3DMark Time Spy untuk mewakili test performa game sintetis DX12 dalam bentuk skor (Graphic Test Score & CPU Score)

 

Real World Application

  • 3D Rendering on CPU: Blender
  • Image Procesing: FS Resizer 

Kami menciptakan sebuah custom workload untuk semua aplikasi di atas dengan tujuan mengukur kinerja.

Penjelasan lengkap akan diberikan pada halaman benchmarking-nya.

 

Game

Daftar game yang digunakan:

  • FFXV Benchmark
  • GTA V
  • Rise of the Tomb Raider (ROTTR)

Game  dijalankan pada scene benchmark kemudian di-capture framerate + frametime-nya oleh tool FRAPS untuk mengambil nilai average FPS dan 99th percentile FPS (1% Minimum FPS).

 

Tambahan: Sekilas mengenai FPS dan Frame Time

Ada beberapa skenario pengujian dalam gaming yang menghasilkan variasi framerate cukup tinggi yang tidak bisa terdeteksi oleh penghitungan average FPS(frame per second) saja. Kejadian ini membuat kami memutuskan untuk melihat data Frametime logFrametime adalah waktu dimana 1 (satu) frame akan di-render oleh sistem, biasanya dalam satuan milliseconds (ms). Selama ini kami menggunakan FPS (Frame per second) sebagai unit pengukuran untuk mempermudah perbandingan. Namun, ada kalanya pengukuran frame time ini bisa lebih penting, karena bisa memberi kami data untuk melihat seberapa jauh variance/perbedaan dari waktu render masing-masing frame.

Umumnya, waktu render yang jauh berbeda antar frame, misal frame pertama dirender pada 16.7 ms, lalu frame kedua pada 40 ms, lalu frame ketiga pada 16.7 msakan membuat kita merasa adanya ‘stuttering’ dalam game.

Sebagai perbandingan, inilah konversi FPS ke Frametime:
(dengan rumus FPS = 1000/Frametime,  frametime dalam satuan ms. Berlaku sebaliknya, Frametime = 1000/FPS )

  • 120 FPS 8.3 ms (1000/120 = 8.3)
  • 60 FPS 16.7 ms (1000/60 = 16.7)
  • 30 fps 33.3 ms (1000/30 = 33.3)
  • 20 fps 50 ms (1000/20 = 50)

Ini berarti makin KECIL frametime, makin BESAR FPS-nya, dan berlaku sebaliknya.

Setelah menganalisa lebih lanjut, kami menemukan bahwa ada juga cara mudah untuk menentukan apakah sebuah sistem PC mengalami ‘stutter’ yang parah atau tidak. Salah satunya adalah dengan menganalisa frametime log dari beberapa tool seperti FRAFSTool sederhana ini dapat menghitung secara otomatis bagian 1% frame yang ‘terburuk’ dari sekumpulan data frame time ( 1% Minimum Framerate, a.k.a 99th percentile).

Tentunya, PC yang nilai ‘1% minimum FPS’-nya jauh lebih rendah dari FPS rata-rata, pastinya akan mengalami ketidaknyamanan berupa berbagai kejadian ‘stutter’ dalam game.

Pada sampel data frametime berikut, terlihat bahwa data Average tidak terlalu mencerminkan 'spike' yang terjadi, sedangkan data 99th percentile-nya lebih mendekati sebagian besar lonjakan yang terjadi sepanjang game berlangsung

Pada sampel data frametime berikut, terlihat bahwa data Average tidak terlalu mencerminkan ‘spike’ yang terjadi, sedangkan data 99th percentile-nya lebih mendekati sebagian besar lonjakan yang terjadi sepanjang game berlangsung

 

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES