in: General | July 25, 2018 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Eksperimen RAM Dual-Channel Beda Rating: 4GB DDR4-2666 + 8GB DDR4-2400

Memasangkan modul RAM dengan ukuran dan rating berbeda pada sebuah sistem PC berpotensi menyebabkan berbagai masalah compatibility, apalagi kalau memory-controller nya sedang beroperasi pada mode multi-channel (entah dual-channel/triple-channel/quad-channel etc). Namun karena berbagai alasan, kami sering menemui kondisi dimana pengguna ‘mencampur’ RAM yang spesifikasinya berbeda pada sebuah sistem.

Skenario yang sering terjadi misalnya sistem yang sekarang sudah menggunakan RAM 1x 4 GB(satu keping 4GB), lalu beberapa waktu kemudian penggunanya membeli RAM 1x 8GB(satu keping 8GB) lagi. Pada pengguna dengan skenario ‘upgrade’ seperti ini, biasanya banyak detail tidak diperhatikan si pengguna, misalnya Rating frekuensi dan timing RAM yang lama. Pada sebuah sistem dengan memory controller yang memiliki mode multi-channel seperti dual-channel, mode operasinya merekomendasikan penggunaan RAM yang identik, menyebabkan pemasangan RAM berkonfigurasi berbeda ini tidak terlalu disarankan, kecuali terpaksa.

Dulu, penggunaan RAM dengan beda spesifikasi seperti ini sering menyebabkan masalah dan ketidakstabilan(random crash/hang/BSOD), sehingga memaksa vendor motherboard dan juga prosesor untukmenciptakan beberapa ‘compatibility fix’ membuat operasi RAM seperti demikian masih dimungkinkan.

Tanpa si pengguna tahu, banyak platform dan motherboard yang secara otomatis melakukan beberapa tindakan untuk memaksimalkan kompatibililtas RAM saat mendeteksi RAM yang berbeda, seperti:

  1. Mendeteksi RAM dengan speed terendah dan timing terlonggar saat boot, lalu me-load sistem dengan kecepatan RAM terendah dan timing terlonggar untuk memastikan sistem bisa boot
  2. Mengkonfigurasi memory controller untuk secara otomatis melonggarkan beberapa timing dan subtiming, atau bahkan bisa juga meminta memory controller untuk beroperasi pada ‘compatibility mode’ jika ada.
  3. Memberikan voltage ekstra pada memory dan memory controller untuk lebih stabil beroperasi

Nah, pada kali ini kami ingin bereksperimen mencoba sebuah konfigurasi RAM tidak umum, yakni RAM 4GB + 8 GB (12GB total, berjalan pada mode dual-channel pada AMD APU Ryzen).

 

Ruang Lingkup & Metode Pengujian

Pada pengujian ini kami akan:

  • Menjalankan RAM yang berbeda rating dan specs-nya pada mode dual-channel dan melihat bagaimana motherboard-nya bereaksi.
  • Tentu, kami juga akan mencoba melakukan overclocking pada RAM 4+8GB ini (bukan JagatOC kalau berjalan default dong :p)
  • Lalu membandingkan performa yang ada dengan konfigurasi umum seperti 4GB + 4GB.

 

Spesifikasi – RAM

Berikut spesifikasi RAM yang kami gunakan, sesuai pembacaan Thaiphoon Burner:

RAM #1 – Team Elite 4GB DDR4-2666 CL19

 

RAM #2 – HyperX Fury 8GB DDR4-2400 CL15

 

Seperti bisa dilihat di atas, kedua RAM yang bisa dibeli terpisah(bukan secara kit) ini memiliki spesifikasi berbeda:

Ukuran RAM per modulnya sudah berbeda, begitu pula IC dan rating-nya. Satu-satunya yang sama dari kedua modul ini adalah jumlah dan arrangement IC, yakni 8 IC, single-ranked.

 

Spesifikasi – PC

Untuk PC-nya sendiri kami menggunakan:

  • Prosesor: AMD Ryzen 3 2200G (OC ke 3.8Ghz menggunakan Ryzen Master)
  • Motherboard: MSI B350M Pro-VH Plus (BIOS 280)
  • GA: Integrated Radeon Vega 8
  • SSD: HyperX Fury 120GB
  • PSU: Enermax 500W
  • CPU Cooler: AMD Stock FX Cooler

Pengujian ini dilakukan berbasis AMD Ryzen APU ‘Raven Ridge’ yang mendukung mode operasi up to Dual-channel. Perlu dicatat bahwa motherboard MSI B350M Pro-VH PLus yang kami gunakan hanya memiliki 2 Slot DIMM (2-DIMM), sehingga mode operasinya terbatas pada dual-channel, 1 Modul RAM per channel (a.k.a 1 DIMM Per channel).

Mari mulai!

 

Daftar Isi
Pages: 1 2
Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES