in: General | July 5, 2018 | by: Jagat OC Team

Hands-on Overclocking: MSI B350M Pro-VH Plus (di Ryzen 2200G)

Test – Performance

Test – Temperature

Test – Power Consumption

 

*klik untuk memperbesar

Keterangan:

Dengan setting overclock yang kami aplikasikan, performa sistem terutama performa Memory dan Integrated Graphics meningkat cukup jauh. Performa CPU pada beberapa kondisi, seperti benchmark Cinebench R15 yang tidak terlalu memory-intensive, tak jauh berubah dan hanya meningkat 9% karena kami hanya menggunakan setting 3.8 Ghz. Pada AMD Wraith Max yang kami pakai, suhu CPU saat default dan OC tidak terpaut jauh, hanya meningkat 4C saat di-load dengan Cinebench R15 5x loop.

Pada bagian konsumsi daya, nampak ada peningkatan signifikan pada kondisi overclocked, dimana CPU dan GPU di-load bersamaan dengan 3DMark Fire Strike Combined Test, ada peningkatan konsumsi daya sekitar 40%-an. Kondisi ini terjadi karena hampir semua power-management pada CPU dan IGP  yang dilakukan sensor SenseMI pada AMD di-bypass saat overclocking. Pada mode overclocking manual, CPU dan GPU beroperasi pada full-speed tanpa TDP / Power-limit pada setiap komponennya dan memberikan performa ekstra, walau ini harus dibayar dengan konsumsi daya lebih. Kami merasa peningkatan daya 40% ini masih terbayar mengingat 3DMark Fire Strike Graphics score-nya meningkat 37%.

 

BONUS: Case Study – Kompetisi Overclocking dengan MSI B350M Pro-VH Plus

Pada Maret-April 2018, ada beberapa kompetisi overclocking lokal di Indonesia yang menggunakan motherboard MSI B350M Pro-VH Plus dan AMD Ryzen 3 2200G (Salah satu liputan-nya bisa dilihat pada web Hexatekno.com di URL ini). Kompetisi tersebut menggunakan watercooler AIO(all-in-one) 120mm dari ID-Cooling, dan RAM Team Elite DDR4-2400 CL16 2x4GB, tapi komponen sisanya mirip dengan specs testbed kami.

Di kompetisi tersebut, sesuai dengan data binning AMD Ryzen 3 2200G yang kami buat beberapa waktu lalu, rata-rata peserta-nya menemui limit prosesor pada sekitar 3900-3950 Mhz untuk benchmarking, dengan IGP-nya berkisar pada 1525-1550 Mhz-an.

Satu hal unik yang kami jumpai adalah para peserta yang status-nya amatir di kompetisi tersebut nampak terbantu dengan fitur MSI Memory Try-it profile yang ada di BIOS.

Salah satu pencatatan memory clock tertinggi di kompetisi tersebut untuk mode single-channel adalah DDR4-3733 20-22-22-39. Tidak buruk untuk hardware low-end :)

 

Kesimpulan

B350M Pro-VH Plus memiliki tampilan & slot ekspansi yang terlihat ‘seadanya’, cukup sesuai dengan penempatan board ini pada kelas value. Jumlah slot dan I/O-port nya tergolong cukup di kelasnya, walau yang kelihatan jelas di sini adalah MSI tidak memberi opsi slot M.2. Berbicara kelengkapan, konektor fan di motherboard ini pun hanya ada 2(dua), dan mungkin ini agak menyusahkan bagi pengguna dengan banyak fan pada sistemnya.

Meski demikian, menu BIOS-nya memiliki menu lengkap untuk melakukan tuning parameter overclocking. Pada skenario penggunaan APU Raven Ridge, performa sistem Anda (terutama performa gaming dengan IGP) bisa naik cukup signifikan dengan setting yang tepat. Secara khusus, fitur Memory Try-It! di motherboard ini memudahkan setting overclock memory bagi pengguna awam(dan ternyata terbukti membantu para overclocker amatir di beberapa kompetisi overclocking!). Tambahan yang menarik dari motherboard ini adalah tersedianya EZ Debug LED, memudahkan baik pengguna awam maupun overclocker melakukan troubleshooting.

Board ini hanya memiliki 2-DIMM (a.k.a 1 DIMM per channel), dan mungkin terasa mengganggu bagi beberapa pengguna yang ingin opsi menggunakan RAM 4 keping pada motherboardnya. Namun berdasarkan hasil observasi kami, B350M Pro-VH Plus yang memiliki 2-DIMM ini lebih mudah mencapai memory clock tinggi dibandingkan produk sejenis dengan 4-DIMM(dibandingkan dengan MSI B350 Tomahawk 4-DIMM, sama-sama 4-layer, B350M Pro VH lebih mudah mencapai clock DDR4-3466 atau lebih).

Berbicara masalah VRM, tidak ada suhu panas berlebih yang menghawatirkan selama pengujian, namun kami menyarankan untuk memperhatikan airflow pada area sekitar VRM CPU SOC yang tidak diberi heatsink oleh MSI. Ini perlu diperhatikan terutama dengan penggunaan IGP kencang pada Ryzen 5 2400G yang akan memberi beban lebih kepada VRM CPU SOC.

Sejauh ini, nampak kalau VRM board ini memiliki komponen yang cukup untuk menangani overclocking ringan pada kelas prosesor Ryzen 3 4-Core 4-ThreadRyzen 5 4 Core / 8 Thread, atau beberapa prosesor Ryzen 5 6-Core Non-X(1600,2600). Kami juga pernah mencoba menjalankan beberapa Ryzen 7 8-Core Non-X (seperti 1700 dan 2700), namun ini akan memberi beban cukup signifikan pada VRMnya, sehingga kami menyarankan menjaga voltage rendah saat overclocking Ryzen 7 8-Core.

Berikut Saran Voltage aman untuk overclocking (berasumsi SUHU CPU Tdie terjaga setidaknya di 80C saat load)

  • CPU VCore (Ryzen 3 4C/4T): up to 1.35 – 1.4v
  • CPU VCore (Ryzen 5 4C/8T): up to 1.35v
  • CPU VCore (Ryzen 5 6C/12T): Up to 1.25v – 1.3v
  • CPU VCore (Ryzen 7 8C/16T): Up To 1.2v – 1.25v
  • CPU NB/SoC Voltage (Ryzen Non-APU): up to 1.2v
  • CPU NB/SoC Voltage (Ryzen 3 2200G): up to 1.2v
  • CPU NB/SoC Voltage (Ryzen 5 2400G): up to 1.1 – 1.15v

Sejauh ini, board berharga tidak sampai 1.4 Juta Rupiah(saat artikel ini ditulis, dengan 1 USD = 14400 IDR) tersebut menurut kami cukup layak Anda lirik ketika ingin membangun PC entry-level khususnya dengan AMD APU terbaru Ryzen 3 2200G.

Sampai jumpa di pengujian kami yang berikutnya!

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4
Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES