in: Review | July 11, 2018 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Overclocking Review: AMD Ryzen 5 2600X vs Intel Core i5-8600K

Rangkuman

 

Re-cap

(skip bagian ini jika Anda sudah membaca keterangan dari setiap halaman benchmark)

 

Performa Benchmark Sintetis

  • Dari mulai awal pengujian, kedua prosesor dari AMD dan Intel ini memperlihatkan kelebihan dan kekurangan pada area yang spesifik: Ryzen 2600X unggul pada pengujian multi-core/multi-threaded, Core i5-8600K unggul pada pengujian single-core/single-threaded.
  • Geekbench 3 yang cukup berat menguji performa pada integer calculation dan juga performa cache memory menunjukkan keunggulan di Ryzen 2600X, walau keunggulan ini hanya terjadi saat keduanya default.
  • 8600K secara khusus unggul pada Geekbench 4 karena Coffee Lake(dan juga Skylake dan Kaby Lake), memiliki performa yang baik saat menangani instruction set AVX. 2600X nampak tidak terlalu kencang di sini.
  • Meng-overclock Core i5-8600K ke  5 Ghz menunjukkan perbedaan yang cukup kentara dibandingkan keadaan default, sebaliknya overclock Ryzen 2600X ke 4.2Ghz menunjukkan perbedaan yang kurang dari 10%.

 

Benchmark Real-World

  • Sejalan dengan pengujian benchmark sintetis, aplikasi yang memanfaatkan banyak core seperti Blender menunjukkan keunggulan yang massive pada Ryzen. Core i5-8600K yang di-overclock ke 5 Ghz pun tidak akan bisa mengejar Ryzen 2600X default.
  • Pada aplikasi dengan pemanfaatan core tidak terlalu berat seperti pada workload file compression dan MP3 encode, Ryzen 5 2600X masih menunjukan keunggulan, walau hal tersebut bisa dikejar oleh 8600K yang berjalan pada 5 Ghz.
  • Pada workload yang kami miliki, nampak bahwa overclocking RAM pada Ryzen tidak terlalu mengubah keadaan kecuali pada benchmark file compression.
  • Aplikasi dengan load core ringan dimenangkan oleh i5-8600K, walau jaraknya tidak terlalu jauh saat keduanya default (jaraknya melebar ketika 8600K-nya berjalan di 5Ghz)

 

Gaming

  • Secara umum, Core i5-8600K unggul pada skenario Gaming yang umumnya less-threaded, dan lebih mencari prosesor yang kencang performance-per-core-nya (bukan memilki banyak thread).
  • Satu perkecualian yang menunjukkan keunggulan 2600X dibanding 8600K pada game test kami adalah Ashes of The Singularity DX12. (Ini saat default)
  • Peningkatan performa gaming pada 2600X default yang di-optimalkan setting RAMnya ke DDR4-3333 dengan subtiming ketat JAUH lebih kencang dibanding sebuah 2600X yang di-overclock ke 4.2Ghz secara manual namun RAM-nya dibiarkan pada DDR4-3200.
  • Secara umum, perbedaan performa 2600X ke 8600K cukup terlihat pada GPU GTX 1080 Ti. Meskipun demikian, saat keduanya berjalan default, perbedaan performanya relatif tipis. Performa 8600K baru terlihat cukup ‘buas’ pada 5Ghz OC.

 

Power Consumption/Power Efficiency

  • Terlihat cukup jelas kalau pada bagian konsumsi daya, secara umum 8600K memiliki konsumsi daya total yang lebih rendah dari 2600X, serta efisiensi daya yang lebih baik pula.
  • Performa 8600K di 5Ghz yang kencang harus dibayar dengan konsumsi daya yang agak sedikit melebar.
  • Overclocking CPU Ryzen 5 2600X secara manual ke 4.2Ghz agak sedikit ‘merusak’ efisiensi daya total saat semua core di-load, ini nampak wajar karena VCore yang dibutuhkan pada saat overclocking 2600X ke 4.2Ghz kami agak besar. Untungnya, pada skenario yang tidak terlalu CPU-core intensive, peningkatan konsumsi daya-nya agak wajar.

Relative Performance (%)

 

*klik untuk memperbesar

Kesimpulan

 

Ryzen 5 2600X Overclocking: Lebih Baik Fokus Tuning RAM

Potensi clockspeed pada Ryzen ‘Pinnacle Ridge’ sudah kami buktikan berkali-kali pada serangkaian pengujian. Clockspeed 4Ghz bisa dicapai dengan cukup mudah, dan batas atas harian-nya terletak pada 4.1 – 4.2Ghz. Sayangnya, pengujian kami menunjukkan peningkatan yang relatif dangkal saat overclocking ke 4.2Ghz, kurang dari 10%. Mengingat peningkatan tersebut harus dibayar dengan konsumsi daya ekstra, dan juga me-non-aktifkan banyak fitur power-saving. Lalu bisa jadi juga CPU Anda tidak memiliki kemampuan overclocking yang baik sehingga membutuhkan voltase besar untuk bisa stabil, memperparah efisiensi daya saat beroperasi. Ini membuat kami tidak terlalu merekomendasikan overclocking manual pada Ryzen 2600X.

Namun, Anda yang ingin performa ekstra bisa memfokuskan target Anda pada tuning variabel RAM. Overclocking dan tuning sub-timing RAM terbukti memberikan performa ekstra yang massive pada skenario yang memory-intensive seperti gaming. Tidak main-main, optimalisasi RAM bisa membuat sebuah 2600X mengejar sebuah sistem Coffee Lake. Kabar baiknya lagi, motherboard AMD murah seperti A320 pun masih mengizinkan overclocking RAM!

Namun perlu diingat, overclocking dan fine-tuning RAM tidak untuk semua individu, karena faktor kompleksitas yang cukup tinggi.

 

Core i5-8600K Overclocking: Effort ekstra, namun Worth It

Pada kelas harga yang setara, performa Ryzen 5 2600X bisa membuat performa Core i5-8600K dalam keadaan default terlihat ‘lemah’. Namun, meski hanya berbekal jumlah thread setengah-nya 2600X, sebuah 8600K bisa menunjukkan performa kelas atas begitu di-overclock ke 5Ghz. Peningkatan performa berkat overclocking ini cukup berarti, karena peningkatan performa CPU yang diraih ada di Angka 10-15% bergantung aplikasi dan workloadnya.

Di sini, perlu diakui bahwa overclocking Core i5-8600K membutuhkan usaha yang tidak sedikit:

  • Anda membutuhkan motherboard seri Z (Z370)
  • Kalau Prosesor Anda tidak bisa mencapai 5Ghz dengan Voltase 1.3v VCore, umumnya Anda harus terpaksa men-delid prosesor-nya demi menjaga suhu aman harian.

 

Ryzen 5 2600X vs Core i5-8600K: Stock vs Stock

Seperti yang kami sebut di atas, pada keadaan stock clock, Core i5-8600K tidak terlihat memiliki performa yang mengagumkan. 8600K hampir pasti selalu tertinggal dibanding 2600X pada aplikasi berat yang memanfaatkan jumlah core/thread banyak (seperti skenario 3D Rendering pada workload kami). Berbeda dengan 8700K yang diberikan stock clock up to 4.7 Ghz, 8600K hanya diizinkan memiliki turbo clock hingga 4.3 Ghz di aplikasi ringan, membuat perbedaan performa 8600K dan 2600X relatif dekat.

Area keunggulan 8600K yang kelihatan saat stock clock adalah pada skenario Gaming yang tidak terlalu memanfaatkan jumlah core banyak, dan ini juga berasumsi GPU Anda cukup kencang dan tidak menjadi faktor limitasi/bottleneck. Efisiensi daya juga menjadi area dimana 8600K unggul jauh.

 

Ryzen 5 2600X vs Core i5-8600K: Overclock vs Overclock

Potensi clockspeed tinggi membuat Core i5-8600K yang di-overclock ke 5Ghz memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan keadaan default. Performa single-threaded 8600K yang termasuk bagus langsung mendapat boost yang signifikan pada 5 Ghz, dan 8600K mendominasi semua skenario gaming di clockspeed ini. Meskipun kadang butuh effort ekstra untuk membuat sebuah 8600K berjalan di 5Ghz (termasuk membeli motherboard yang jauh lebih mahal dan delid CPU), performa 8600K 5 Ghz bisa membayar berbagai ‘kerepotan’ yang menyertainya.

2600X masih bisa unggul atau menyamai 8600K 5Ghz hanya pada aplikasi spesifik yang memanfaatkan banyak core.

 

 

Penutup

Pada saat artikel ini rilis, harga kedua prosesor ini ada di kelas yang sama dan hanya terpaut beberapa ratus ribu Rupiah (2600X = sekitar 3300000 IDR, 8600K = 3700000, 1 USD = 14400 IDR). Meski demikian,kedua prosesor tersebut memiliki keunggulan yang spesifik pada sebuah area (yang nampaknya sudah mudah ditebak :p): Ryzen 5 2600X unggul pada saat aplikasi yang dijalankan menuntut operasi dari banyak core/thread, sedangkan Core i5-8600K unggul di aplikasi dengan pemanfaatan jumlah core relatif rendah.

Ryzen 5 2600X – Good Value

Melihat karakteristik ini, Ryzen 5 2600X tentu akan cocok bagi pengguna yang tentunya mencari prosesor untuk penggunaan ‘all-rounder’ – tidak spesifik pada gaming, namun juga aplikasi lain yang memanfaatkan performa multi-core CPU. Menghitung performa ekstra saat overclocking CPU cukup minim didapatkan, nampaknya berjalan dengan konfigurasi stock pada sebuah setup dengan motherboard B350 kelas menengah akan cocok di sini. Budget yang ada bisa dialokasikan untuk membeli RAM dengan rating agak tinggi (Setidaknya DDR4-2933 hingga DDR4-3200, dan akan lebih optimal jika  Anda mampu melakukan tuning subtiming manual). 2600X pun memiliki stock cooling yang tidak terlalu buruk, sehingga Anda yang ingin hanya berjalan pada stock clock nampaknya tidak perlu mengeluarkan budget ekstra untuk CPU Cooler.

Core i5-8600K – Strong Performance @ 5Ghz

Bertolak belakang dari 2600X, performa prosesor 8600K pada saat default termasuk biasa-biasa saja di kelas harganya(kecuali pada saat gaming). Anda nampaknya baru akan mendapatkan manfaat maksimal dari 8600K Anda saat menggabungkannya dengan motherboard Z370, membeli Cooler high-performance, dan menjalankan prosesor ini setidaknya pada all-core OC 4.8Ghz atau 5 Ghz. Melihat potensi performa yang ada saat 8600K di-overclock, agak sulit untuk menyarankan sebuah setup dimana prosesor ini dijalankan pada motherboard Non-Z yang tidak diizinkan overclock, belum lagi kecepatan RAM Anda pada motherboard non-Z akan terbatas pada DDR4-2666.

Secara total lebih mahal? Ya, pasti. Namun performa-nya pada 5 Ghz nampak cukup pantas untuk harganya.

 

Semoga informasi yang kami berikan pada artikel ini bisa berguna untuk Anda, sampai jumpa pada Artikel kami yang berikutnya!

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tags:

Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES