ASUS ROG Crosshair VIII Extreme Overclocking Hands-on .feat Dynamic OC Switcher (DOS)

Reading time:
October 24, 2021
0 LOGO

ROG Crosshair dikenal sebagai salah satu motherboard high-end AMD yang memiliki fitur overclocking dan tuning luar biasa. Kali ini, kami mendapat kesempatan untuk menguji ASUS ROG Crosshair VIII Extreme (a.k.a C8E),  motherboard mewah yang menawarkan jumlah slot ekspansi melimpah, dan tentunya memiliki fitur overclocking khas ROG.

Berbicara fitur overclocking, kami melihat ada begitu banyaknya fitur overclocking yang tersedia pada motherboard ini untuk meningkatkan performa, dan bahkan ada fitur yang hanya tersedia di motherboard ini.

Mari lihat motherboard ini lebih dekat!

 

Gallery

The board

C8E DSC01495
Dilihat dari atas, Crosshair VIII Extreme terlihat sangat padat fitur – Klik untuk memperbesar

 

Socket Area

C8E DSC01497
C8E dilengkapi Heatsink VRM ekstra besar, dan menggunakan 18+2 Power Stage, setiap power stage memiliki rating 90A

 

2x 8-pin CPU 12V

C8E DSC01499
Tersedia 2×8-pin CPU Input, menggunakan ProCool Connector untuk suhu konektor terjaga pada saat continuous load

 

4 Slot DIMM

C8E DSC01500
Sedikit berbeda dengan board khusus overclock yang umumnya menggunakan desain 2 Slot DIMM (1 DIMM per channel), ASUS C8E menggunakan 4 slot DIMM (2 DIMM Per channel). Disarankan mengisi slot yang ditandai (Slot A2 dan B2).

 

Angled 24-pin ATX Power

C8E DSC01501
C8E memiliki konektor 24-pin ATX Power yang miring 90 derajat, memudahkan cable management pada beberapa case

 

IO Panel

C8E DSC01507
IO Panel di C8E menunjukkan banyaknya konektivitas yang tersedia. Bahkan ada Thunderbolt 4.0 di sana, dan 10GBe LAN dari Marvell AQtion.

 

C8E DSC01510
ClearCMOS dan BIOS Flashback tersedia di backpanel IO

 

 

M.2 Q-Latch

C8E DSC01509
Salah satu fitur yang berguna bagi banyak user – pemasangan M.2 tanpa perlu sekrup (ini dinamakan Q-Latch)

 

Voltage Check Point

C8E DSC01502
Overclocker bisa melakukan checking voltage pada point yang tersedia, terletak di sebelah CPU fan

 

Tombol Bantuan – Safe Boot & Retry

C8E DSC01504
Tombol SAFE_BOOT tersedia bagi overclocker yang setting-nya gagal booting dan ingin cepat melakukan booting tanpa melakukan clear CMOS. Sedangkan Tombol RETRY tersedia bagi overclocker yang ingin mencoba ‘memaksa’ setting-nya untuk beroperasi.

 

START/RESET(FLEX Key)

C8E DSC01511
Tombol Power (START) dan Reset (FLEX KEY) tersedia di panel motherboard. FLEX KEY ini juga bisa dikonfigurasi di BIOS untuk fungsi lain

 

2″ LiveDASH OLED

C8E DSC01512
Tersedia layar 2″ LiveDash OLED yang bisa menampilkan informasi POST Code saat Boot, maupun serangkaian informasi lain seperti temperatur dan voltage

 

RGB

Bagi anda yang menyukai RGB, C8E datang dengan serangkaian LED pada beberapa area di motherboard yang bisa dikustomisasi

C8E DSC01513 C8E DSC01515

 

Testbed

C8E DSC01518

Spesifikasi Testbed yang kami gunakan adalah sebagai berikut :

  • Prosesor : AMD Ryzen 9 5950X
  • Motherboard : ASUS ROG CROSSHAIR VIII EXTREME
  • RAM: G.SKILL TRIDENTZ DDR4-4000 CL17 2x16GB
  • GPU: Galax RTX 3090 HOF
  • CPU Cooler: CORSAIR H105 + Noctua NFA12x25
  • PSU: ASUS ROG THOR 1200W

 

Metode Pengujian

Kami akan eksplorasi berbagai opsi tuning di BIOS, lalu menjalankan berbagai fitur tersebut dan melihat efeknya pada clockspeed dan performa prosesor.

Beberapa benchmark sintetis akan kami jalankan untuk mengukur performa dalam kondisi default dan overclocked, seperti :

  • Cinebench R15 : Single-core dan Multi-core
  • AIDA64 Memory Benchmark : Copy Bandwidth dan Latency

Lalu sebagai tambahan, tool seperti CPU-Z dan HWINFO kami gunakan untuk monitoring.

*Sebagai catatan, setting yang kami jalankan pada artikel ini difokuskan untuk bisa digunakan harian dengan relatif aman, dan sebisa mungkin dilakukan dengan langkah sederhana,

sehingga kami tidak melakukan eksplorasi Extreme overclocking dengan Extreme cooling, dan juga tidak men-setting berbagai variabel yang berpotensi menyebabkan ketidakstabilan (seperti BCLK).

 

Mari mulai!

 

Pre-Test : Menyalakan XMP (D.O.C.P)

Untuk memulai artikel ini, mari mulai dari hal paling mudah : menyalakan fitur XMP , karena kebetulan RAM kami memiliki profil XMP.

Pada BIOS ASUS, fitur ini terdapat pada sebuah opsi bernama Ai Overclock Tuner, dan profil XMP di sini bernama D.O.C.P , silahkan lihat gambar di bawah :

1A DOCP

RAM TridentZ kami memiliki rating DDR4-4000, tapi sebagai catatan penting – RAM kami menggunakan keping dual-sided (a.k.a dual rank), dan pada beberapa memory controller AMD, menjalankan RAM dual-rank ini cukup membebani memory controller.

Untuk itu, kami membatasi setting RAM kami, dengan men-setting kecepatan secara manual ke DDR4-3600 untuk menjaga kestabilan.

Hasil AIDA Bandwidth setelah DOCP dan setting Frekuensi adalah sebagai berikut :

AIDA64 Cache & Memory Benchmark – 49.8 GB/s Copy Bandwidth, 63.6ns

1B DOCP

 

 

Pre-Test: Menjalankan Benchmark dalam kondisi CPU Default (+RAM DOCP)

Sebelum masuk ke tuning sistem, kami akan menjalankan benchmark singkat yakni Cinebench R15 untuk melihat kondisi default.

CPU Multi-core : 4443

CPU Single Core : 271

2 CB15 Default

Dengan all-core clockspeed sekitar 4 Ghz-an lewat sedikit, dan single-core yang ada di 4.9Ghz+, Ryzen 9 5950X menunjukkan performa yang cukup kencang.

Berikutnya, kita akan mulai melakukan tuning.

 

Tuning 1 : PBO

Pada semua prosesor AMD modern sejak Ryzen 2000-series, salah satu fitur overclocking yang bisa dengan mudah dikerjakan pengguna bernama Precision Boost Overdrive (PBO).

Dengan mengaktifkan PBO, maka sejumlah variabel dalam prosesor, seperti Current Limit dan Power Limit akan ‘dilepas’, menjadikan prosesor bisa beroperasi dengan kecepatan (sustained clockspeed) lebih tinggi.

Menu PBO dapat ditemukan pada bagian BIOS berikut ini:

3 PBO

Hanya ada satu opsi yang dibutuhkan untuk menyalakan PBO, yakni mengubahnya menjadi Enabled. Mudah bukan?

Seperti apa efeknya? Mari kita lihat berikut ini :

CPU Multi-core : 4902

CPU Single Core : 269

3B PBO Bench

Dengan satu klik opsi PBO, skor benchmark multi-core pada Ryzen 9 5950X meningkat setidaknya 10% dengan menyentuh 4900-an poin Cinebench R15.

Skor single-core terlihat turun ke 269, namun nampak masih wajar. Pada kondisi PBO, kadang ada kondisi dimana voltage prosesor diset cukup aggressive, sehingga bisa jadi pada lighty-threaded workload  clockspeed efektif prosesor turun sedikit.

 

Tuning 2 : Manual All-core Overclocking

Berikutnya, kita akan mencoba melakukan overclocking yang lebih ‘tradisional’, yakni melakukan All-core Overclocking.

Pada mode ini, kita akan melakukan setting CPU Multiplier secara manual, dan bukan bergantung kepada power limit maupun current limit yang dikerjakan PBO.

Karena Ryzen 9 5950X memiliki 2 CCD (Core Chiplet Die), jika diinginkan kita bisa melakukan setting CPU multiplier yang berbeda per CCD. Namun untuk menjaga setting kami tetap sederhana, kami men-setting kedua CCD ke nilai yang sama.

Berikut ini setting yang kami jalankan pada BIOS ASUS ROG C8E :

4A Manual

Seperti kebanyakan Zen3 ‘Vermeer’ prosesor kami dapat menjalankan kecepatan All-core lebih dari 4.5Ghz dengan relatif mudah. Prosesor 5950X kami bisa menjalankan berbagai benchmark pada 4.7 Ghz di 1.37V, hanya karena voltage tersebut relatif tinggi dan juga pendingin kami pada pengujian kami kali ini adalah sebuah AIO 240mm, kami memilih menjalankan prosesor tersebut pada 4.6 Ghz 1.325v.

 

Berikut benchmarknya :

CPU Multi-core : 5184

CPU Single Core : 254

4B Manual

Dengan menjalankan prosesor pada kecepatan 4.6 Ghz all-core, terlihat bahwa skor benchmark Cinebench R15-nya meningkat cukup signifikan, sekitar +16% dari kondisi default.

Tapi yang disayangkan dengan All-core overclocking ini adalah kecepatan maksimum single-core-nya akan terganggu. Disini tercatat bahwa setting All-core 4.6 Ghz kami kehilangan performa single-core sekitar 7%.

Pada sebagian besar motherboard, hal ini tidak dapat dihindari, karena Pengguna memang umumnya harus memilih, mode manual yang bisa menghasilkan performa maksimal namun dengan trade-off performa single-core turun, atau mode PBO yang melakukan overclocking berbasis power/current limit yang tidak kehilangan performa single-core, namun peningkatan performanya lebih kecil dari manual mode.

Untungnya, ASUS ROG Crosshair VIII Extreme memiliki solusi untuk masalah ini, bernama Dynamic OC Switcher (DOS).

 

Tuning 3 : ROG Dynamic OC Switcher (DOS)

Dynamic OC Switcher (DOS), adalah sebuah fitur khusus yang dikembangkan para overclocker dan engineer di ASUS ROG, yang bertujuan membuat sebuah mode ‘pintar’ dimana sistem bisa melakukan switching dari kondisi Default atau PBO, ke Manual OC Mode, dan sebaliknya, secara otomatis!

Fitur ini bekerja dengan cara mendeteksi load CPU melalui sebuah current sensor, jika nilai arus/current ini melebihi jumlah tertentu, maka sistem akan secara otomatis masuk ke OC Mode.

  • Jadi pada load ringan, CPU bisa beroperasi pada clockspeed tinggi sesuai kondisi default ataupun PBO,
  • dan pada load berat, CPU bisa beroperasi pada kondisi manual OC.

ROG DOS akan ‘menggabungkan’ kelebihan dari Precision Boost dan Manual Overclocking sekaligus!

 

Berikut ini setting yang kami aplikasikan :

5 DOS

Manual OC untuk CPU tidak kami ganti, tetap diset pada 4.6Ghz 1.325v.

Yang beda adalah bagian dimana Dynamic OC Switcher diset ke Enabled.

Lalu Nilai Current Threshold kami set pada 95 A.

Dengan nilai ini, load yang membebani CPU lebih dari 95A (atau kurang lebih sekitar 16-Thread dari observasi kami) akan membuat sistem DOS melakukan switching ke manual OC mode (4.6Ghz all-core).

Sedangkan pada load ringan <95A, maka CPU akan berjalan pada kondisi PBO (kami set PBO enabled).

Sebagai tambahan, ASUS juga memberikan fitur keamanan, dimana saat CPU tinggi pada manual mode, maka sistem akan kembali ke default. Kami men-setting nilai Temperature Threshold pada 85C.

 

Berikut ini hasil benchmarknya :

CPU Multi-core : 5156

CPU Single Core : 271

5B DOS

Terlihat bahwa dengan DOS, nilai Multi-core kami naik cukup tinggi dari kondisi default, TANPA mengorbankan performa single-core. Prosesor 5950X kami masih memiliki performa setara 4.6Ghz all-core pada nilai Multi-core (5100+), namun masih mempertahankan nilai single-core-nya yakni 271.

 

Eksperimen 1 : Curve Optimizer

Ada beberapa hal lagi yang masih bisa dilakukan bagi Anda yang ingin melakukan berbagai eksperimen melakukan fine-tuning demi sedikit clockspeed ekstra.

Opsi pertama adalah Curve Optimizer.

Secara sederhana, Curve Optimizer adalah sebuah setting yang bisa mengubah Voltage-Frequency Curve dari sebuah prosesor tertentu, dan umumnya men-setting nilai ini ke arah ‘Negative’ akan berusaha melakukan ‘undervolting’ pada prosesor, dan di kondisi tertentu ini akan mengizinkan prosesor untuk mempertahankan clockspeednya pada nilai tertentu lebih lama.

Berikut ini menu Curve Optimizer pada C8E :

6 CurveOptimizer

Semakin besar nilai Offset-nya, maka semakin besar pula voltage yang akan dikurangi, sehingga kami menyarankan Anda mulai dari nilai Negative, 10. Baru perlahan naik ke 15, uji dengan benchmark apakah bisa stabil dan seterusnya.

Ingat bahwa nilai offset yang terlalu besar, bisa berpotensi menyebabkan ketidakstabilan.

 

Eksperimen 2: ASUS Core Voltage Suspension (A.k.a ‘Dynamic Vclamp’) – Hanya di BETA BIOS

Fitur berikutnya yang khusus ada pada ROG Crosshair VIII Extreme, adalah sebuah fitur yang disebut sebagai ASUS ROG Core Voltage Suspension (atau kadang disebut sebagai dynamic Vclamp).

Menu ini adalah sejumlah pengaturan fine-tuning, untuk ‘memaksa’ dan memanipulasi core voltage untuk ditahan pada batas tertentu meskipun CPU dapat me-request voltage yang berbeda, dan nilai ini bisa diset untuk menyesuaikan dengan temperatur CPU (karena pada temperatur tertentu, CPU bisa memiliki kebutuhan voltage yang berbeda).

Saat artikel ini rilis, Core Voltage Suspension hanya tersedia dalam bentuk BETA BIOS, dan saat ini masih belum banyak dokumentasi seputar eksperimen yang bisa dilakukan dengan setting ini.

Kami sendiri mencoba memberikan setting ‘Ceiling High Vmax; pada 1.4V berikut ini :

6 CVS

 

Dari observasi singkat pada saat melakukan Cinebench single-core run, kami melihat setting kami ini sempat menyentuh clockspeed 5 Ghz, walaupun sayangnya peningkatan skor yang kami dapatkan belum terlalu berarti (dan masih ada di range run variation).

Setting Core voltage suspension ini juga perlu agak hati-hati, karena setting voltage ceiling yang terlalu rendah akan membuat sistem sangat tidak stabil.

Nampaknya perlu banyak testing yang perlu dilakukan untuk melihat manfaat lain dari penggunaan Core Voltage Suspension ini.

 

Penutup

C8E DSC01514

 

Crosshair VIII Extreme hadir sebagai motherboard kelas Enthusiast dengan sejumlah opsi ekspansi mewah (Thunderbolt + Wifi 6E, 10GBe LAN), kualitas komponen kelas atas, desain cantik, dan pastinya fitur overclocking dan tuning super lengkap. Sebegitu lengkapnya, kami cukup yakin tidak banyak pengguna enthusiast atau overclocker berpengalaman sekalipun yang memanfaatkan semua fitur tuning-nya hingga maksimal.

Kami berharap, Anda yang memiliki setup serupa, setidaknya mau menyempatkan diri masuk ke BIOS untuk mengaktifkan DOCP, atau XMP.

Walaupun tentu saja yang menjadi highlight dalam hands-on overclocking kali ini adalah Fitur DOS(Dynamic OC Switcher), fitur yang bisa mengatasi kelemahan overclocking manual all-core – dan fitur ini hanya ditemui pada motherboard tertentu, salah satunya C8E ini. Dan seperti yang kami sebut di atas, masih banyak fitur fine-tuning yang nampaknya perlu analisis dan pengujian ekstra, seperti Core Voltage Suspension.

Nah, Sesi pengujian singkat kami bersama Crosshair VIII Extreme (C8E) sudah selesai, semoga data dari pengujian ini berguna bagi Anda yang membutuhkannya. Sampai jumpa di pengujian selanjutnya!

Load Comments

Extreme OC

February 23, 2021 - 0

Review Cooler Master ML360 SUB-ZERO (+ Overclocking Core i9-10900K @ 6 Ghz )

Pendingin pada komputer umumnya akan menjaga suhu perangkat komputer dalam…
November 28, 2019 - 0

Overclocking Extreme AMD 3rd Gen Ryzen Threadripper 3970X : Rekor Dunia Berjatuhan!

Setelah mengumumkan kemunculannya pada awal November ini, AMD akhirnya meluncurkan…
September 16, 2019 - 0

Overclocking RAM di MSI MPG Z390I Gaming Edge AC : Motherboard Pemecah Rekor DDR4-6000

Tanggal 10 September 2019 ini, sebuah milestone baru tercapai pada…
October 10, 2018 - 0

Overclocking Review Gigabyte Z390 AORUS MASTER : Watercooling + LN2 Cooling

Menyambut kedatangan prosesor Core i 9th Gen, Intel merilis sebuah…

Easy OC

December 19, 2020 - 0

Easy Overclocking Intel Core i5-10600K & Core i7-10700K

Prosesor Intel Core 10th Gen ‘Comet Lake’ merupakan prosesor yang…
October 11, 2018 - 0

Hands-On Feature: Asus ROG AI Overclocking (di ROG Maximus XI Hero Wi-Fi)

Setelah sebelumnya kami melakukan hands-on motherboard ROG Maximus XI Hero…
February 16, 2018 - 0

Overclocking RAM Murah dan Mudah: Memory Try It pada MSI A320M Pro-VD/S (Ryzen 3 2200G ‘Raven Ridge’)

  Overclocking RAM dengan chipset A320? Kenapa Tidak? Saat ini,…
August 21, 2017 - 0

Easy OC Core i9-7900X di MSI X299 Tomahawk Arctic: Enhanced Turbo dan GameBoost

Sejauh ini, solusi prosesor Intel untuk kelas Enthusiast pada harga…

General OC

August 5, 2021 - 0

Test : Overclocking IGP Radeon Vega (Ryzen 7 5700G) di MSI B550I GAMING EGDE WIFI

Prosesor Ryzen 5000 G-series ‘Cezanne’ baru saja hadir untuk DIY…
June 9, 2021 - 0

G.Skill rilis Trident Z Royal Elite DDR4-4000 CL14 32 GB Kit : Kapasitas Besar, Frekuensi Tinggi, Latency Ketat

Sebagai produsen RAM yang nampaknya tidak berhenti mengejar performa tertinggi,…
April 17, 2021 - 0

G.Skill Umumkan Trident Z Royal Elite : Sampai Kecepatan DDR4-5333 CL22

G.Skill, produsen RAM ternama yang terkenal dengan kemampuan overclocking-nya, mengumumkan…
March 30, 2021 - 0

Overclocking & Hands-on Review : Gigabyte Z590I AORUS ULTRA Mini-ITX (di Core i7-10700K)

Generasi motherboard next-gen dari Intel sudah mulai berdatangan, dan ini…