in: Extreme | April 26, 2017 | by: Alva "Lucky_n00b" Jonathan

Hands-on Extreme OC AMD Ryzen 7 1700 di ASUS Crosshair VI Hero

1.4v_Best

Pada beberapa kali pengujian kami, prosesor AMD terbaru yakni Ryzen menunjukkan kemampuan overclocking yang unik. Berbekal proses fabrikasi 14nm baru dari Samsung-GlobalFoundries, AMD Ryzen 7(seri Ryzen paling atas saat artikel ini ditulis) mampu mengusung konfigurasi 8-Core CPU(16-Thread dengan Simultaneous Multi-threading), dengan kisaran base clockspeed 3 – 3.2 Ghz untuk model paling bawah(Ryzen 7 1700), hingga ke model paling atas yang memiliki base clockspeed 3.6Ghz lalu bisa memiliki 1-core boost ke 4 Ghz atau lebih (Ryzen 7 1800X).

Berdasarkan pengujian kami pada 10 unit Ryzen 7 1700(bisa Anda baca di sini), kami mencoba memetakan scaling voltage vs frequency dari Ryzen 7, dan mendapat data sebagai berikut:

Ryzen7_1700_BestVsAvgCPU

Ya, prosesor Ryzen 7 1700 yang ‘hanya’ memiliki base speed 3.2Ghz pun bisa mencapai clockspeed 3.9 – 4Ghz, selama Anda memberi voltase yang cukup, dan tentunya menggunakan cooling yang memadai. Ini berarti Ryzen 7 1700 yang berharga cukup terjangkau memiliki potensi untuk mencatatkan performa tinggi, selama anda rela ‘membayar’ efisiensi daya-nya dengan performa ekstra akibat overclocking, karena overclocking Ryzen 7 1700 dengan voltage tinggi akan membuat prosesor tersebut cukup ‘rakus’ daya.

Catatan: Sebaliknya, Overclocking di Ryzen 7 1700 sendiri jika dilakukan dengan voltage rendah(1.15-1.2v), bisa dilakukan pada motherboard kelas menengah dengan relatif aman.

Potensi performa di Ryzen 7 1700 tentunya membuat kami di JagatOC cukup penasaran dengan kemampuannya, dan akhirnya memutuskan untuk menguji prosesor tersebut pada skenario Extreme OC dengan Liquid Nitrogen(LN2). Simak pengujiannya di artikel ini!

 

Penjelasan Extreme Overclocking

oc competition

Pada berbagai diskusi seputar extreme overclocking, kami sering menemui pertanyaan :“Untuk apa? Bukankah itu hanya buang-buang waktu karena kecepatannya tidak bisa digunakan untuk sehari-hari?”

Ya, extreme overclocking dengan LN2 sulit atau hampir mustahil diaplikasikan pada penggunaan harian, setidaknya pada saat ini. Jadi mengapa kami ‘buang-buang waktu’ melakukannya? Kami setidaknya punya 3 jawaban:

  1. Extreme Overclocking dapat memperlihatkan seberapa jauh teknologi bisa ‘dipaksa’ berlari, dan berpotensi memberikan ‘preview’ seberapa jauh performa PC pada masa ke depan. Bagi kami yang mencintai teknologi, tentu melihat seberapa jauh angka performa ini bisa dicapai merupakan data yang berharga, walau komponen tersebut hanya bisa berjalan sebentar dalam waktu pengujian
  2. Pengujian ketahanan/durability menggunakan Extreme overclocking merupakan testing yang agak ‘kejam’, dan berpotensi memperlihatkan kelemahan tertentu pada sebuah desain hardware, jika komponen kami ada yang tidak kuat, pastinya komponen tersebut akan langsung rusak sebelum pengujian berlangsung. (Ini sebabnya juga kadang para vendor hardware seperti Motherboard atau VGA mencari data pengujian extreme overclocking dari extreme overclocker, untuk melihat apakah desain mereka bisa bertahan dalam kondisi extreme seperti itu)
  3. Untuk mendapat hasil yang maksimal dalam kompetisi overclocking. Baca penjelasan Overclocking dalam konteks kompetisi di artikel ini.

 

Pilihan Motherboard: ASUS ROG Crosshair VI Hero

CH6

Menimbang bahwa kami akan menguji prosesor tersebut dalam keadaan ekstrim dimana konsumsi daya-nya akan sangat berbahaya bagi motherboard, maka kami memilih motherboard AM4 yang memang dipersiapkan untuk melakukan overclocking, yakni ASUS Crosshair VI Hero. Pengujian kali ini juga setidaknya bisa menjadi acuan  seberapa kuat regulator daya di Crosshair VI Hero menangani overclocking ekstrim dengan LN2.

 

Ruang Lingkup dan Metode Pengujian

CH6_pics_10

Pengujian singkat kali ini memiliki 2 tujuan, yakni

  1. Melihat bagaimana jauh prosesor Ryzen bisa di-overclock saat menggunakan pendingin extreme seperti Liquid Nitrogen
  2. Menguji ketahanan ASUS Crosshair VI Hero saat menangani load yang luar biasa berat dari CPU Ryzen yang sudah di-OC dengan voltase besar

Untuk mengukur performa, setelah prosesor di-overclock kami hanya menggunakan benchmark sintetik seperti Cinebench R15.

 

Spesifikasi Testbed

CH6_pics_01

Spesifikasi PC yang kami gunakan di pengujian kali ini adalah:

  • Prosesor: AMD Ryzen 7 1700
  • Motherboard: ASUS Crosshair VI Hero, BIOS 0079
  • RAM 1: G.Skill TridentZ DDR4-3600CL16 2x8GB (untuk pretest)
  • RAM 2: G.Skill TridentZ RGB DDR4-4266CL19 2x8GB (untuk pengujian utama)
  • VGA: Galax GT 710
  • SSD: HyperX Fury 120GB
  • PSU: Corsair AX1500i
  • OS: Windows 7 64-bit SP1

 

Let’s Go!

 

Daftar Isi
Pages: 1 2
Share This:

COMMENTS

comments!

RANDOM ARTICLES